Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web



Blue Phoenix Royal Empire SparkCom Pudzone
book

home

back
Kiai, Pesantren Dan NU
Setiap kajian tentang Islam tradisional dikepulauan Indonesia, terutama di Jawa harus mempertimbangkan peran pesantren dan para Kyai yang memimpinnya. Pesantren secara harfiah berarti tempat para santri, sedangkan pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan pribumi yang pertama kali di Indonesia dan sangat penting bagi Islam di negara kepulauan ini. Ada pesantren yang sejak mula didirikan ditengah perkampungan penduduk desa, tetapi ada pula yang dibangun ditempat agak terpencil jauh dari pemukiman desa. Pemisahan dari kehidupan duniawi mendorong santri memusatkan perhatiannya pada studi keagamaan dan menempuh kehidupan penuh keprihatinan yang kondusif bagi pengembangan spiritual.
Pesantren yang ditemui selama beberapa dasawarsa awal abad XX sangat beragam ukurannya, dari yang terdiri dari hanya beberapa puluh murid atau santri yang ditampung dirumah sang kiai hingga yang merupakan sebuah lembaga besar dengan ratusan santri yang memiliki berbagai fasilitas termasuk asrama, masjid dan bangunan sekolah. Tanah tempat pesantren dibangun seringkali merupakan tanah wakaf, tanah yang disumbangkan oleh muslim setempat untuk tujuan amal dan keagamaan.
Selama pesantren tetap hidup dan berkembang dan para ulama serta kyai tetap menjalankan peran mereka dalam menyiarkan Ahlussunnah Waljamaah dan melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar, selama itu pula NU sebagai faham tetap hidup, selanjutnya Idham Cholid mengatakan bahwa sebenarnya pesantren merupakan miniatur NU dalam sekala kecil, dan NU merupakan pesantren dalam skala besar.
Dengan simbolisasi yang berbeda tetapi dalam konteks pengertian yang sama, Abdurrahman Wahid menggambarkan komunitas pesantren sebagai subkultur yang secara formal tidak memiliki hubungan struktural dengan NU, namun substansinya justru pesantren itulah NU. Sebagian besar lembaga sosial kemasyarakatan dan unit kegiatan usaha NU tumbuh dengan pola pertumbuhan pesantren yang berciri mandiri dan otonom, milik warga, yang membentuk komunitas kecil dalam masyarakat besar NU.
Tokoh sentral di sebuah pesantren adalah kiai, perannya berisi banyak. Ia adalah seorang cendekiawan, guru sekaligus pembimbing spiritual. Seringkali ia bertindak sebagai penjaga iman, penghibur dan sekaligus pendekar. Menurut teori, otoritas Kyai diperoleh terutama dari pengetahuan agamanya, khususnya dibidang fikih, tauhid dan bahasa arab. Pada kenyataanya, tingkat pemahamannya mereka dibidang tersebut sangat bervariasi dan banyak Kyai yang mengandalkan kharisma pribadi serta mengaku memiliki kekuatan supranatural untuk menarik minat para pengikutnya. Didalam pesantren otoritas Kyai bersifat mutlak. Tunduk pada kemauan Kyai merupakan aturan utama dari budaya pesantren.
Pesantren barangkali suatu model pendidikan yang sama tuanya dengan islam di Indonesia. Pada mulanya keagamaan dimulai dari masjid, surau atau langgar. Ketika akhirnya sejumlah kiai pesantren besar yang mempunyai pengaruh luas dilingkungan pesantren sendiri mendirikan jamiyah NU, seperti Kiai Hasyim Asyari, Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Asnawi dan lain-lain, maka tidak sulit dukungan dari sebagian besar pesantren lainnya. Cabang-cabang NU yang dibentuk didaerah-daerah umumnya dirintis oleh para kiai pesantren, guru atau saudagar yang memperoleh pendidikan dipesantren. Dengan latar belakang inilah maka pengembangan NU sejak tahun-tahun pertama mendapat sambutan yang luas.
Secara doktrinal, para kiai menganggap dirinya sunni ortodoks meskipun banyak unsur-unsur dalam praktik keagamaannya yang berasal dari sumber-sumber non-Islam. Sebutan yang mereka sukai adalah Ahlu Sunnah Waljama’ah, yaitu pengikut sunnah nabi dan para sahabatnya. Ortodoksi diartikan patuh tidak hanya kepada tradisi yang ditentukan dalam al-Qur’an dan sunnah nabi tetapi juga pada prinsip dan rumusan yang disusun oleh para ulama besar zaman klasik.
Sifat keberadaan NU merupakan upaya peneguhan kembali sebuah tradisi keagamaan dan sosial yang sebenarnya telah melembaga dalam jaringan struktur dan pola kepemimpinan yang mapan. Lambaga-lembaga pesantren, Kyai, santri dan jamaah mereka yang tersebar ditanah air sebagai unit-unit komunitas sosial budaya umat Islam, menjadikan NU tanpa kesulitan menyebarkan sayap organisasinya. Apalagi pengaruh Kyai Hasyim Asy’ari dan Kyai Wahab Hasbullah dilingkungan pesantren cukup kuat, sehingga ketika NU pertama kali diperkenalkan begitu mudah menarik minat dan simpati serta dukungan para Kyai yang memimpin pesantren. Hubungan kekerabatan kyai sendiri dalam lingkungan pesantren di Jawa sangat membantu penyebaran NU sampai kedaerah-daerah.
Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU , yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.
Dalam konteks seperti diatas dapat dipahami perjalanan NU selajutnya, melalui media pesantren para ulama mengemban tugas melaksanakan jihad untuk menegakkan kalimah Allah. Ketika dirasakan perlunya mengemban kelambagaan tradisi sosial dan kultural yang telah hidup ditengah masyarakat kearah bentuk yang lebih formal dengan spektrum dan visi yang lebih luas maka didirikan organisasi sosial keagamaan sebagai jembatan untuk mengantisipasi tugas tersebut. NU merupakan salah satu wujud dari upaya itu, dimulai dari akar pesantren para ulama muda pesantren merintis kegiatan-kegiatan jihad mereka.
Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon Kebangkitan Nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.
Dari perhimpunan keagamaan seperti Nahdlatul Watan, Taswirul Afkar kemudian NU, tidak berlebihan jika dikemukakan bahwa kegiatan ulama pesantren membentuk organisasi sosial keagamaan jauh sebelum NU lahir, merupakan embrio kelahiran NU. Suatu tahap perkembangan obsesi mereka untuk mewujudkan negeri merdeka, obsesi utuk menempatkan syariah sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan mereka.
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkoordinasi dengan berbagai Kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagai Rais am’. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa motif utama yang mendasari gerakan para ulama untuk membentuk NU ialah motif keagamaan sebagai Jihad Fi Sabilillah. Aspek kedua yang mendorong mereka adalah tanggung jawab pengembangan pemikiran keagamaan yang ditandai upaya pelestarian ajaran mazhab Ahlussunnah Waljamaah.
Prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan Nahdlatul Ulama (NU) telah diterjemahkan dalam perilaku kongkrit. NU banyak mengambil kepeloporan dalam sejarah bangsa Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman. Prestasi NU antara lain:
1. Menghidupkan kembali gerakan pribumisasi Islam, sebagaimana diwariskan oleh para walisongo dan pendahulunya.
2. Mempelopori perjuangan kebebasan bermadzhab di Mekah, sehingga umat Islam sedunia bisa menjalankan ibadah sesuai dengan madzhab masing-masing.
3. Mempelopori berdirinya Majlis Islami A'la Indonesia (MIAI) tahun 1937, yang kemudian ikut memperjuangkan tuntutan Indonesia berparlemen.
4. Memobilisasi perlawanan fisik terhadap kekuatan imperialis melalui Resolusi Jihad yang dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945.
5. Berubah menjadi partai politik, yang pada Pemilu 1955 berhasil menempati urutan ketiga dalam peroleh suara secara nasional.
6. Memprakarsai penyelenggaraan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1965 yang diikuti oleh perwakilan dari 37 negara.
7. Memperlopori gerakan Islam kultural dan penguatan civil society di Indonesia sepanjang dekade 90-an